Desa Jurangmangu merupakan  desa yang paling kecil di wilayah Kecamatan Pulosari, baik dari luas wilayah maupun jumlah penduduknya. Pada saat ada Program pemerintah tentang Desa Tertinggal, Jurangmangu termasuk salah satu desa dalam kategori Desa Tertinggal. Hal ini dikarenakan kondisi sosial ekonomi Desa Jurangmangu pada waktu itu masih sangat rendah, terutama dalam bidang pendidikan. Pada tahun tersebut jumlah lulusan sekolah lanjutan pertama saja hanya beberapa orang saja. Hal ini berpengaruh besar terhadap pola sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

Sebagai desa dengan mayoritas pekerjaan penduduk sebagai petani, sebenarnya desa jurangmangu dahulu pernah terkenal sebagai desa pertanian dengan tanaman primadona jeruk,kentang dan tembakau. Dulu hampir dapat dipastikan setiap warga mempunyai tanaman jeruk. Namun sekarang jeruk di desa jurangmangu bisa dikatakan punah. Tanaman kentang pun sekarang sudah tidak berjaya lagi di jurangmangu. Salah satu komoditi yang sampai sekarang masih eksis adalah tanaman tembakau. Kebangkitan tanaman tembakau di Jurangmangu ahir-ahir ini kembali mengangkat nama jurangmangu sebagai desa penghasil tembakau yang di daerah Parakan, wonosobo, dan magelang tembakau desa jurangmangu ini terkenal dengan sebutan tembakau gunung slamet.

Hal-hal dan kejadian penting dalam sejarah desa jurangmangu ;

  1. Pada tahun 1950-an pernah terjadi wabah penyakit yang masyarakat mengenalnya dengan istilah “KUDIM”, yang menimpa hampir kebanyakan masyarakat. Akibat serangan penyakit tersebut menyebabkan sekujur tubuh menjadi bengkak-bengkak(“melar”). Bahkan tidak jarang menyebabkan warga meninggal dunia.
  2. Tahun 1960-an, Jurangmangu mengalami zaman kejayaan dalam produksi pertanian jeruk, kentang dan tembakau
  3. Tahun 1980 terjadi banjir bandang yang membawa material lumpur dan kayu menerjang sebagian pemukiman an areal pertanian warga. Banjir tersebut disebabkan oleh kerusakan hutan. Bantaran sungai yang terus menerus tergerus erosi sampai sekarang, menyebabkan masih rawan terjadinya banjir ke pemukiman warga.
  4. Pada tahun 2003 didirikan dan diselenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
  5. Tahun 2006 di Jurangmangu diselenggarakan Pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Keberadaan MTs. tersebut sangat membawa dampak positif terhadap peningkatan tarap pendidikan masyarakat Desa jurangmangu. Hal ini terbukti dengan meningkatnya angka melanjutkan dari lulusan SDN Jurangmangu, yang tadinya hanya sekitar 2% menjadi 100% melanjutkan.